Kerajaan Sawitto dalam Lintas Sejarah (2)
![]() |
Istana Kerajaan Sawitto |
PINRANG.ARUNGSEJARAH.COM - Kerajaan Sawitto dalam Lintas Sejarah (2).
SUATU ketika raja Gowa bersama pem-besarnya akan mengadakan perburuan rusa di dalam hutan dan kesempatan itulah yang digunakan oleh La Tolengo untuk membebaskan rajanya. Persiapan pun dilakukan La Talengo dengan jalan pergi ke pinggir pantai untuk melubangi semua dasar perahu yang ada di pinggir pantai, kecuali hanya satu yang tidak dirusak oleh La Talengo karena itulah yang akan dipergunakan nanti bersama tuannya untuk melarikan diri ke Sawitto.
Saat raja Gowa bersama pembesar dan sebagian
pasukan kerajaan berangkat berburu rusa, La Talengo bersama tuannya segera
pergi ke pinggir pantai dan naik ke atas sebuah perahu yang cukup bagus yang
telah dipersiapkan sebelumnya, lalu berangkat menuju ke Sawitto.
Kalangan istana geger setelah mengetahui bahwa tawanan kerajaan yaitu raja Sawitto telah melarikan diri bersama seorang pembantu istana yang ternyata adalah suruhan dari pihak Kerajaan Sawitto untuk membebaskan rajanya yang ditawan oleh Kerajaan Gowa.
Raja Gowa murka dan memerintahkan semua pemilik perahu yang ada di Kerajaan Gowa agar segera mengejar pelarian dari Sawitto itu. Akan tetapi maksud itu terkendala karena semua perahu yang ada di pinggir pantai telah dirusak dan dilubangi dasarnya sehingga tidak bisa dipergunakan untuk melaut.
Raja Gowa sangat menyesal, terutama penerimaan La Talengo menjadi salah satu pembantu di istana padahal dia adalah musuh. Sementara ifu, La Talengo bersama tuannya semakin jauh dari perairan Kerajaan Gowa sehingga hal itu dianggap sudah aman dari kejaran pasukan Kerajaan Gowa, dan setelah beberapa hari lamanya berlayar maka sampailah beliau di perairan Kerajaan Sawitto.
Berita kedatangan La Talengo
bersama rajanya segera tersiar sehingga berbondong-bondonglah masyarakat, pemuka
masyarakat, hadat Kerajaan Sawitto dan pelaksana raja yang berkuasa untuk
menjemput beliau.
Pada masa pemerintahan raja Sawitto yang ke-4 yaitu PaleteangngE atau La Pute Bulu, Kerajaan Sawitto mengalami kemajuan yang sangat pesat. Perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai oleh Kerajaan Sawitto, membuat kerajaan-kerajaan lainnya berkeinginan untuk menguasainya. Kondisi tersebut disebabkan karena Kerajaan Sawitto sangat subur tanahnya, sehingga sangat cocok untuk lahan pertanian yang sangat baik.
Selain itu, Kerajaan
Sawitto lewat rajanya yang bemama La Paleteang alias La Pute Bulu menjalin kerjasama
dengan melakukan federasi dengan beberapa kerajaan. Federasi ini di kemudian
hari dikenal dengan nama persekutuan limaE Ajattappareng yang beranggotakan
lima buah kerajaan yaitu; Kerajaan Suppa, Sawitto, Alitta, Rappang dan
Sidenreng.
Persekutuan LimaE Ajattappareng diadakan di daerah Kerajaan
Suppa karena yang menjadi pionir terbentuknya persekutuan tersebut a dalah
DatuSuppa, La MakkarawiE. Ketika pencetusan dan peresmian persekufuan itu,
masing-masing kerajaan diwakili oleh :
1. Kerajaan Suppa diwakili olehdatu Suppa La MakkarawiE.
2. Kerajaan Sawitto diwakili oleh Addaoang Sawitto La Paleteang alias La Pute Bulu.
3. Kerajaan Sidenreng diwakili oleh Addaoang Sidenreng La Pateddungi.
4. Kerajaan Rappang diwakili oleh Arung Rappang La Pakallongi.
5. Kerajaan Alitta
diwakili oleh. Arung Alitta La Pakallongi (Syahrir, 7997,h1m.777 -178).
Persekutuan LimaE Ajattappareng pada awalnya dicetuskan oleh
datu Suppa La MakkarawiE karena terdorong perasaan takut akan adanya serangan
dari kerajaan lain terhadap mereka, terutama serangan dari Kerajaan Gowa
yangpada waktu sedang melakukan perluasan wilayah kekuasaannya. Dalam
persekutuan itu disepakati bahwa:
1. Kerajaan Suppa sebagai pelopor terbentuknya Persekutuan LimaE Ajattappareng, maka ditempatkan sebagai saudara tertua.
2. Semua anggota persekutuan mempunyai kedudukan yang sama.
3. Jika salah satu anggota
persekutuan yang mengalami kesulitan, maka anggota lainnya harus saling
membantu. 4. Saling percaya satu dengan yang lainnya dan berusaha saling
memberi kemaslahatan untuk kepentingan bersama.
Ketika raja Sawitto La Paleteang turun tahta, maka beliau digantikan oleh La Cella Mata sebagai raja Sawitto yang ke-5. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Luwu mengalami kekeringan selama tujuh tahun lamanya sehingga masyarakat mengalami kekurangan bahan makanan.
Kerajaan Sawitto yang terkenal ketika itu sebagai lumbung padi, memberikan bantuan bahan makanan kepada Kerajaan Luwu. Atas bantuan itu, maka raja Luwu berterima kasih dan mengatakan bahwa hanya raja Sawitto yang berhak memakai gelar sombaya bukan raja Gowa.
Pernyataan pajungngE ri Luwu itu karena Kerajaan Gowa pada saat yang sama
memiliki persediaan bahan makanan yang melimpah, tetapi dia tidak mau membantu
masyarakat Kerajaan Luwu untuk mengatasi kesulitan yang sedang melanda daerah
itu.
Pernyataan raja Luwu dengan memberikan gelar kepada Addatuang Sawitto sebagai sombaya mengakibatkan raja Gowa murka. Bukti kemurkaannya dengan melakukan serangan secara besar-besaran terhadap Kerajaan Sawitto, termasuk ser€u:rgan terhadap istana raja.
Pada penyerangan ini, raja Sawitto La Cella Mata berhasil dibunuh oleh pasukan Kerajaan Gowa dan mayatnya lalu dipotong-potong kemudian dijadikan sebagai makanan terhadap anjing-anjing pemburu raja Gowa Tunipallangga Ulaweng.
Pengganti beliau adalah We Passulle
sebagai raja Sawitto ke-6. Pada masa pemerintahan beliaulah agama Islam masuk
ke Kerajaan Sawitto yang diterima tanpa melalui suatu peperangan.
Sebelumnya... Kerajaan Sawitto dalam Lintas Sejarah (1) - Arung Pinrang (arungsejarah.com)