Sejarah Kerajaan Letta dan Tondo Bunga (3)
PADA TAHUN 1670 , Arung Letta datang ke Makassar untuk menghadap dengan tujuan mengadakan persahabatan dengan Kompeni Hindia Timur dan Letta, ketika itu langsung diterima menjadi anggota Perserikatan Celebes. Dan pada tanggal 27 Apil 1671, Arung Enrekang datang juga ke Makassar dan diterima menjadi anggota Perserikatan Celebes oleh Kompeni Hindia Timur.
Setelah itu tidak ada lagi raja-raja dari kerajaan pegunungan yang datang ke Makassar untuk menjalin persahabatan dengan Kompeni Hindia Timur ( Bram Morris, 1992,h1m.2). Nanti pada tahun 1824, muncul lagi utusan raja-raja dari Federasi Massenrempulu di Makassar untuk menghadap kepada Gubernur Van Der Capellen untuk mengadakan persahabatan atau kontrak perjanjian Bungaya yang baru, tetapi mereka tidak berhasil karena pihak Kompeni hanya menginginkan raja mereka sendiri yang datang.
Dan pada tanggal 26 Desember 1825, Gubernur Makassar dikuasakan kembali untuk memasukkan raja-raja Massenrempulu ke dalam kontrak kekuasaan, namun hal ini tidak pernah terlaksana (Bram Morris, 1992,h1m.2-3).
Selanjutnya 1866, Federasi Duri ditaklukkan oleh raja Sidenreng La Pangorisan dan selanjutnya beliau lalu mengadakan kunjungan singkat ke Makassar pada bulan November 1866 untuk menemui Gubernur Bakkers dan meminta agar Kerajaan Federasi Duri yang baru ditaklukkan itu dimasukkan menjadi bSgian dari Kerajaan Sidenreng.
Sejalan dengan permintaan itu, dengan surat tanggal 3 Desember 1866 no. 621, disarankan kepada pemerintah tentang hal itu, tetapi dengan surat kabinet tanggal 13 Juli 7867 no. 108 diberikan pertimbangan bahwa biarlah masalah itu didiamkan saja karena kenyataannya raja Sidenreng tidak pernah lagi datang untuk menyelesaikan masalah itu.
Namun demikian, raja-raja Massenrempulu tetap mengakui supermasi itu. Dan terakhir bahwa anggota Federasi Massenrempulu kembali mengikat kontrak dengan Pemerintah Hindia Belanda.
Melihat latar sejarah Kerajaan Letta yang begitu besar dan berpengaruh di Sulawesi Selatan pada masanya, maka tidak bisa dilupakan bahwa Kerajaan Letta itu mempunyai latar penamaan yang sangat unik yaitu bahwa nama Kerajaan Letta yang dipakai pada awal kerajaan sampai sekarang masih dikenal, tidak pernah berubah.
Nama Letta sendiri diambil dari kata saletta yaitu nama sebuah tempat di bagian selatan Desa Letta. Di tempat itu terdapat sebuah batu bersusun (seperti peti bersusun) dan batu itulah yang dinamai seletta.
Jadi nama Kerajaan Letta itu diambil dari balrasa setempat yaitu saletta (bersusun) dan nama itulah yang kemudian dipakai sebagai nama kerajaan, yaitu Letta.
Daerah ini sekalipun berada di atas daerah pegunungan, namun banyak tokoh penting yang berasal dari daerah ini, antaranya tokoh Golkar yang cukup terkenal alm. Baramuli dan saudaranya (Wawancara La Djide. 19 Maret 2011).
Di dalam daerah pemerintahan Kerajaan Letta, terdapat satu daerah yang mempunyai peranan penting selama kerajaan ini eksis, yaitu Kampung Tondo Bunga. Kampung ini adalah merupakan pusat kerajaan pada saatifu sesuai dengan pengertian namanya sendiri.
Tondo Bunga kalau diartikan kata perkata maka akan berarti; kata tondo yang artinya kampung dan bunga artinya jabatan. Jadi kata Tondo Bunga berarti kampung tempat lahirnya raja-raja atau kampung pusat kerajaan.
Keunikan kampung ini karena mempunyai sebuah mesjid yang terletak di atas sebuah batu besar yang datar. Pendirian masjid ini di atas sebuah batu besar yang datar bukan berarti bahwa di daerah ini tidak ada tanah datar yang bisa dijadikan tempat mendirikanmasjid. Tetapi masjid ini didirikan di atasbatu besar yang datar tersebut karena punya latar belakang sejarah.
Menurut penuturan masyarakat setempat bahwa sebelum masjid itu didirikan pada tempat tersebut, batu besar itu sering ditempati oleh penduduk untuk melakukan shalat lima waktu, termasuk shalat hajat. Itulah sebabnya sehingga pada waktu penduduk setempat akan mendirikan sebuah masjid, maka secara serentak mereka memilih tempat tersebut.
Sebelumnya... Sejarah Kerajaan Letta dan Tondo Bunga (2) - Arung Pinrang (arungsejarah.com)
Sumber: Rosdiana Hafid, (2012). Toponimi Daerah Pinrang Sebagai Sumber Sejarah. Makassar: La Macca.
****
Abduh, Muh. dkk., 7985. Sejarah Pulawanan Terhndap lmperialisme dan Kolonialisme di Sulnuesi Selatan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Abduh, Muh. dkk., 7985. Ceritera Rakyat Sulawesi Selatan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Asba, A.Rasyid.2010. Kerajaan Nepo: Sebuah Kearifan Lokal Dalam Sistem Politik Tradisional Bugis, Di Kabupaten Barru. Jokyakarta: Ombak.
Asba,A.Rasyid. Gerakan Sosial di Tanah Bugis; Raja Tanete La Patau Menantang Belanda. Jokyakarta: Ombak.
Anonim, 1989. Selayang Pandang Kabupaten Pinrang. Pinrang: Pemda Tingkat II.
Cindy Adam. Bung Knrno,Penyambung Lidah Rakyat Indonesin. Jakarta: Jambatan
Danasasmita, Saleh, 1983-1984. Rintisan P enelusur an Masa Silam Sejarah lawa Barat, Bandung: Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemda Jawa Barat.
Gising, Basrah. 2002. Sejarah Kuajaan Tanete. Makassar: Samajaya.
Gonggrijp, G, 1949. Sejarah Sosial Ekonomi Hindia Belanda (terjemahan).
Harahap, Parada. 7952. Rangkaian Tanah Air Tornja. Bandung : W. Van Hoeve.
Hamid, Pananrangi. 1986. Dampak Modernisasi Terhndap Hubungan Kekerabatan Dnerah Sulawesi Selatan. Jakarta : Depdikbud.
Hamida, Sitti. 1996. Sejarah Kecamatan Rantepao Kabupaten Tana Toraja.
Kartakusumah, Richardiana, 1990. Prasasti-Prasasti Galuh Pakuan di laut Barat Abad ke 14-16 Masehi. Naskah Seminar Galuh II. Bandung: Tasikmalaya.
Kobong, dkk. 1983. Filsafat Hidup Orang Toraja. Ujung Pandang : Institut Theologia Gereja Toraja.
Kila, Syahrir. 1997. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik lndonesia (Bunga Rampai Sejarah dan Budaya). Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang.
Kila, Syahrir. 7998. Sejarah Islam di Pinrang (Bunga Rampai Sejarah dan Budaya). Ujung Pandang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang.
Poelinggomang, Edward,L. 2005. Sejarah Tanete; Dari Agangnionjo Hingga Kabuputen Barru. Pemerintah Kabupaten Barru (laporan penelitian).
Poelinggomang, Edward, L. 2004. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid I. Makassar : Pemda Sulawesi Selatan kerjasama Balitbangda.
Rasyid, Darwas. 7995. Sejarah Daerah Kabupaten Bnrru. Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Swastiwi, Anastasia Wiw ik. 2010. Toponimi Daerah Natuna. Tanjung Pinang : Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tiadisional.
Walinono, Hasan. Tanete; Suatu Studi Sosiologi Politik. Ujung Pandang : Disertasi Doktor pada Pasca-sarjana Universitas Hasanuddin.